Advertisement

Berita Pemerintahan

Isu Viral

Post Page Advertisement [Top]



INDRAGIRI HULU, RIAU — Di tengah medan karhutla yang sulit dijangkau, petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak selalu bisa mengandalkan kendaraan atau selang bertekanan besar. Salah satu peralatan yang digunakan adalah pompa punggung atau Jet Shooter, yang memungkinkan petugas membawa air langsung menuju titik api.

Penggunaan alat tersebut kembali menjadi perhatian setelah penanganan karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau. Di lokasi tersebut, petugas harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer untuk mencapai area yang terbakar. 

Namun, apakah pompa yang dipanggul di punggung itu benar-benar efektif untuk menghadapi kebakaran hutan dalam skala besar?

Jawabannya: efektif untuk kondisi tertentu, tetapi jelas bukan senjata tunggal untuk memadamkan ratusan hektare karhutla.

Ketika api berada di tempat yang sulit dijangkau

Penanganan karhutla di Sungai Guntung Hilir memberikan gambaran mengenai beratnya kondisi di lapangan.

Menurut laporan Media Center Riau, berdasarkan interpretasi citra Sentinel-2 yang diperbarui pada 17 Agustus 2026, luas area terbakar di lokasi tersebut mencapai sekitar 471,39 hektare. Hingga 23 Agustus, sekitar 49 hektare telah berhasil dipadamkan. 

Masalahnya bukan sekadar luas wilayah.

Petugas harus menghadapi medan yang membuat peralatan pemadam biasa sulit digunakan. Jarak antara sumber air dan titik api mencapai sekitar 150 hingga 200 meter, sementara akses menuju lokasi tertentu harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer. 

Di sinilah pompa punggung Jet Shooter digunakan.

Peralatan tersebut memungkinkan petugas membawa air secara langsung menuju titik yang tidak dapat dijangkau selang pemadam. Dalam kondisi seperti itu, alat yang tampak sederhana justru menjadi penting.

Bukan hanya mengandalkan pompa punggung

Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Penggunaan Jet Shooter bukan berarti petugas memadamkan kebakaran seluas ratusan hektare hanya dengan pompa yang dipanggul di punggung.

Tim di Inhu juga menggunakan Pompa Mark-3 dan Mini Striker untuk pemadaman langsung. Jet Shooter digunakan untuk menjangkau titik tertentu yang tidak dapat dicapai selang.

Petugas juga melakukan mopping up, yaitu proses pendinginan dan penyisiran untuk mencari bara yang masih tersisa.

Langkah ini sangat penting karena kebakaran di kawasan yang memiliki karakteristik gambut dapat menyisakan bara di bawah akar dan lantai hutan. Api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar berhenti di bawah tanah. 

Hari ke-22, petugas masih berjibaku

Pada 24 Agustus 2026, penanganan karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir telah memasuki sekitar hari ke-22.

Riau Pos melaporkan petugas harus bekerja di bawah terik matahari dengan suhu lebih dari 30 derajat Celsius. Mereka juga menghadapi angin kencang yang berpotensi membuat bara kembali menyala. 

Kondisi tersebut membuat proses pendinginan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru.

Sumber air yang jauh, medan yang berat dan bara yang berada di bawah permukaan membuat petugas harus terus menyisir lokasi untuk memastikan api benar-benar terkendali.

Untuk mendukung penanganan, tim juga mendapat dukungan helikopter untuk water bombing. 

Dengan kata lain, pemadaman dilakukan menggunakan kombinasi berbagai metode sesuai kondisi lapangan.

Pompa punggung bukan alat baru

Penggunaan pompa punggung sebenarnya bukan metode yang muncul tiba-tiba akibat karhutla kali ini.

Peralatan tersebut berguna terutama ketika petugas harus memasuki medan yang tidak bisa dijangkau kendaraan pemadam.

Contohnya terjadi di Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada 19 Agustus 2026.

Kebakaran melanda dua lokasi dengan total area sekitar 1,5 hektare. Medan berbukit membuat kendaraan pemadam sulit mencapai titik api. Petugas kemudian menggunakan pompa punggung untuk membawa air menuju lokasi. Api berhasil dikendalikan setelah proses pemadaman berlangsung sekitar dua hingga tiga jam. 

Kasus tersebut memperlihatkan fungsi utama alat ini: bukan menggantikan mobil pemadam atau water bombing, tetapi menjadi solusi ketika petugas harus membawa air ke lokasi yang sulit dijangkau.

Lalu, seberapa efektif?

Jika pertanyaannya adalah apakah pompa punggung efektif untuk memadamkan titik api tertentu, jawabannya ya.

Tetapi jika pertanyaannya apakah alat tersebut mampu menjadi solusi utama untuk karhutla dengan luas ratusan hektare, jawabannya tidak realistis jika digunakan sendirian.

Efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi medan, jarak sumber air, jenis vegetasi, luas kebakaran, intensitas api dan kemampuan petugas menjangkau titik api.

Kasus Inhu memperlihatkan hal tersebut dengan jelas. Petugas membutuhkan kombinasi Mark-3, Mini Striker, Jet Shooter, pendinginan manual, akses air, personel tambahan dan dukungan water bombing. 

Perspektif IDGV 

Jangan menilai perjuangan petugas hanya dari alat yang terlihat

Dari kejauhan, pompa punggung memang terlihat sederhana.

Seorang petugas berjalan membawa tangki air, kemudian menyemprotkan air ke area yang terbakar. Bagi orang yang melihatnya dari layar ponsel, mungkin muncul pertanyaan: “Benarkah cara seperti ini bisa melawan karhutla?”

Pertanyaan tersebut wajar.

Tetapi gambaran di lapangan jauh lebih rumit.

Petugas tidak memilih alat berdasarkan mana yang terlihat paling canggih. Mereka menggunakan apa yang memungkinkan mereka mendekati api.

Ketika kendaraan tidak bisa masuk, personel berjalan kaki.

Ketika selang tidak mencapai titik tertentu, Jet Shooter digunakan.

Ketika api meninggalkan bara di bawah tanah, dilakukan mopping up.

Dan ketika skala kebakaran terlalu luas, dukungan seperti water bombing diperlukan.

Jadi, persoalannya bukan apakah pompa punggung lebih hebat daripada water bombing.

Persoalannya adalah bagaimana setiap alat digunakan pada kondisi yang tepat.

Karhutla dengan luas ratusan hektare tidak akan selesai hanya dengan satu jenis peralatan. Dan semakin sulit medan yang harus dimasuki, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung petugas di garis depan.

Bagi masyarakat, pelajaran terpentingnya justru ada sebelum api muncul: jangan melakukan pembakaran sembarangan di tengah kondisi kering. Satu titik api yang tampak kecil dapat berubah menjadi persoalan ratusan hektare ketika angin, vegetasi kering dan kondisi lahan bertemu.

Sumber dan verifikasi

Media Center Pemerintah Provinsi Riau, 23 Agustus 2026: mengonfirmasi penanganan karhutla Desa Sungai Guntung Hilir, luas area terbakar 471,39 hektare dan penggunaan Jet Shooter untuk menjangkau titik yang sulit dicapai. 

Riau Pos, 24 Agustus 2026: melaporkan penanganan memasuki hari ke-22, medan 1,5 km, sumber air 150–200 meter dari titik api, penggunaan Mark-3, Mini Striker dan Jet Shooter, serta dukungan water bombing. 

ANTARA News Makassar, 20 Agustus 2026: mengonfirmasi penggunaan pompa punggung pada karhutla di Malino, Gowa, seluas 1,5 hektare, karena medan berbukit sulit dijangkau kendaraan pemadam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]