JAKARTA, IDGV – Musim kemarau 2026 mulai memasuki fase yang perlu diwaspadai. Bukan hanya karena hujan semakin jarang, tetapi karena kondisi kering yang meluas membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 535 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia, telah memasuki musim kemarau berdasarkan analisis Dasarian I Agustus 2026. Pada periode yang sama, 90,79 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, sementara 87,28 persen wilayah memiliki sifat hujan di bawah normal.
Kondisi tersebut diperkuat oleh fenomena El Niño yang berada pada intensitas sangat kuat. BMKG memprediksi El Niño dapat bertahan hingga awal kuartal I 2027 dan berpotensi membuat musim kemarau di sejumlah wilayah menjadi lebih kering serta meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.
1.842 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan
Salah satu wilayah yang saat ini mendapat perhatian serius adalah Kalimantan.
BNPB melaporkan, berdasarkan data SiPongi dari pemantauan satelit NASA-NOAA 20 pada 21 Agustus 2026 pukul 14.14 WIB, terdapat 1.842 titik panas di lima provinsi Kalimantan.
Rinciannya:
- Kalimantan Tengah: 976 titik
- Kalimantan Barat: 489 titik
- Kalimantan Timur: 237 titik
- Kalimantan Selatan: 125 titik
- Kalimantan Utara: 15 titik
Dari total tersebut, 1.832 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang dan 10 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan.
1.842 titik panas bukan berarti 1.842 kebakaran.
Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu yang terdeteksi satelit. Titik tersebut tetap membutuhkan verifikasi dan penanganan di lapangan. Karena itu, angka tersebut tidak boleh diterjemahkan secara mentah sebagai jumlah lokasi kebakaran yang telah terkonfirmasi.
Karhutla Nyata Terjadi di Sejumlah Daerah
Di luar data satelit, laporan lapangan menunjukkan kebakaran memang terjadi di sejumlah wilayah.
BNPB melaporkan karhutla di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, yang membakar 25,29 hektare kawasan taman konservasi. Api dilaporkan berhasil dipadamkan pada 20 Agustus.
Di Kabupaten Kutai Kartanegara, karhutla pada 19 Agustus terjadi di sejumlah lokasi dengan total lahan terbakar mencapai 49,55 hektare. Salah satu lokasi terbesar berada di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sanga-Sanga, dengan luas sekitar 42 hektare. Sehari setelahnya, pemantauan drone masih menemukan sekitar 6–7 titik api di lokasi tersebut.
Masalahnya juga tidak berhenti di Kalimantan.
BNPB mencatat karhutla di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, dengan luas lahan terbakar 3,8 hektare. Di Jawa Timur, kebakaran tercatat terjadi di Bondowoso dengan luas sekitar 20 hektare, Blitar 3 hektare, serta Magetan sekitar 8 hektare.
Jawa Timur bahkan telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla selama 180 hari, terhitung 16 Mei hingga 6 Oktober 2026.
Enam Provinsi Jadi Prioritas Penanganan
Melihat kondisi tersebut, BNPB saat ini memperkuat operasi penanganan karhutla di enam provinsi prioritas:
Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Operasi dilakukan melalui satgas darat dan udara. BNPB mengerahkan total 39 unsur udara, termasuk helikopter patroli, pesawat untuk operasi modifikasi cuaca (OMC), serta helikopter water bombing.
Pengerahan tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla saat ini bukan sekadar persoalan satu atau dua titik kebakaran. Pemerintah sudah memperkuat operasi di sejumlah wilayah yang dinilai membutuhkan penanganan.
Mengapa Masyarakat Harus Ikut Waspada?
Di tengah kondisi alam yang kering, satu sumber api kecil dapat berkembang menjadi persoalan besar.
Membakar sampah di dekat lahan kering, membuang puntung rokok sembarangan, membuat api unggun tanpa memastikan api benar-benar padam, atau membuka lahan dengan cara membakar merupakan aktivitas yang risikonya jauh lebih besar ketika vegetasi dan tanah sedang kering.
BNPB secara khusus mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas pembakaran di wilayah rawan terbakar serta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
Bagi masyarakat yang sedang bepergian ke kawasan hutan, gunung, perkebunan, atau area terbuka, kehati-hatian sederhana menjadi semakin penting.
Jangan meninggalkan bara api. Jangan membuang puntung rokok sembarangan. Jangan membakar sampah atau vegetasi. Dan jangan menganggap api kecil pasti akan mati sendiri.
Sebab dalam kondisi kemarau panjang, alam tidak membutuhkan banyak alasan untuk berubah menjadi bahan bakar.
Bukan Berarti Seluruh Indonesia Sedang Terbakar
Meski ancaman karhutla meningkat, kondisi ini tidak boleh dipahami sebagai seluruh wilayah Indonesia sedang mengalami kebakaran.
Data yang tersedia menunjukkan tingkat ancaman berbeda-beda antarwilayah. BMKG masih mencatat adanya hujan lokal di sejumlah daerah, sementara distribusi musim kemarau juga tidak seragam.
Yang sedang terjadi adalah peningkatan risiko akibat kombinasi musim kemarau, kondisi curah hujan yang rendah, dan El Niño yang sangat kuat. Risiko tersebut kemudian dapat berubah menjadi kebakaran ketika terdapat sumber api dan kondisi lingkungan yang mendukung.
Perspektif IDGV
Musim kemarau bukan alasan bagi masyarakat untuk berhenti menikmati alam. Justru pada kondisi seperti sekarang, cara kita memperlakukan alam menjadi jauh lebih penting.
Karhutla tidak selalu bermula dari peristiwa besar. Dalam banyak situasi, sumber masalah bisa berasal dari tindakan manusia yang terlihat sepele.
Karena itu, kewaspadaan bukan hanya tugas petugas pemadam, BPBD, atau pemerintah. Orang yang sedang berkemah, mendaki, bekerja di kebun, bepergian melewati kawasan hutan, maupun sekadar membuang rokok dari kendaraan juga memiliki peran dalam mencegah munculnya api.
Indonesia sedang menghadapi periode kering yang nyata. Kita tidak perlu menunggu asap memenuhi kota atau api masuk ke permukiman untuk mulai berhati-hati.
Menjaga api tetap mati mungkin terlihat sebagai tindakan kecil. Tetapi di musim kemarau seperti sekarang, tindakan kecil itu bisa mencegah kebakaran menjadi bencana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar