Advertisement

Berita Pemerintahan

Isu Viral

Post Page Advertisement [Top]



Kalimantan kembali menghadapi persoalan klasik yang sebenarnya sudah terlalu sering kita dengar: kebakaran hutan dan lahan. Bedanya kali ini, asapnya tidak berhenti di perbatasan. Kabut asap telah berdampak ke Sarawak, Malaysia, hingga 591 sekolah di wilayah tersebut ditutup sementara.

Karhutla Belum Selesai, Asap Sudah Jalan-Jalan

Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan pada musim kemarau 2026. Kondisi cuaca yang panas dan kering membuat risiko kebakaran meningkat, sementara asap dari kebakaran di wilayah Kalimantan Barat dilaporkan bergerak menuju Sarawak.

Kementerian Kehutanan sendiri sebelumnya telah meningkatkan langkah pencegahan karhutla di Kalimantan Barat. Pada 16 Agustus 2026, kementerian melakukan pemeriksaan kesiapan empat perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan atau PBPH di Kalimantan Barat. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk memastikan sistem pencegahan dan penanganan kebakaran benar-benar siap menghadapi peningkatan risiko selama musim kemarau. 

Sementara itu, BNPB juga masih mencatat kejadian karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan. Pada 13 Agustus, misalnya, kebakaran di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, berdampak terhadap sekitar 4,64 hektare lahan. Di Kalimantan Utara, kebakaran di Kabupaten Bulungan pada periode yang sama membakar sekitar empat hektare lahan dan masih dalam penanganan saat laporan dibuat. 

Masalahnya, asap tidak mengenal batas administrasi. Ketika angin bergerak ke arah yang berbeda, persoalan yang awalnya terjadi di satu wilayah bisa berubah menjadi persoalan lintas negara.

Dan kali ini, itulah yang terjadi.

Sarawak Ikut Kena Dampaknya

Di Sarawak, Malaysia, kondisi kualitas udara memburuk akibat kabut asap lintas batas.

Departemen Lingkungan Malaysia melaporkan enam wilayah di Sarawak mencatat indeks pencemaran udara dalam kategori tidak sehat pada 20 Agustus 2026. Serian mencatat angka tertinggi, yakni 193, disusul Kuching 190, Sri Aman 178, Samarahan 173, Sarikei 153, dan Sibu 108. 

Kondisi tersebut akhirnya berdampak langsung ke sektor pendidikan.

Sebanyak 591 sekolah di Sarawak ditutup sementara pada 20 hingga 21 Agustus 2026 karena kondisi cuaca panas dan kering serta memburuknya kualitas udara. Data tersebut dilaporkan Bernama berdasarkan keputusan otoritas pendidikan Sarawak. 

Jadi, ketika asap mulai menyelimuti wilayah tetangga, yang terdampak bukan cuma pemandangan atau jarak pandang. Anak sekolah juga akhirnya harus belajar dari rumah.

Sebuah pengingat bahwa persoalan lingkungan punya cara yang cukup unik untuk memperluas daftar orang yang terkena dampaknya.

Bukan Sekadar Soal Asap

Karhutla sering kali dibicarakan sebatas "hutan terbakar" atau "kabut asap". Padahal dampaknya jauh lebih panjang.

Kualitas udara memburuk, aktivitas masyarakat terganggu, penerbangan bisa terdampak, sekolah harus ditutup, dan masyarakat berpotensi menghadapi risiko kesehatan akibat paparan udara yang buruk.

Di Kalimantan sendiri, dampaknya mulai terlihat pada sektor transportasi. Kabut asap pekat menyebabkan seluruh penerbangan di Bandara Singkawang dihentikan sementara pada 21 Agustus 2026 karena jarak pandang berada di bawah batas aman operasional. Salah satu maskapai bahkan menghentikan penerbangan hingga 23 Agustus. 

Artinya, masalahnya sudah bergerak dari hutan ke jalan, sekolah, bandara, bahkan sampai melewati batas negara.

Kenapa Asap Bisa Sampai Malaysia?

Secara sederhana, asap dari kebakaran dapat terbawa angin dan bergerak melintasi wilayah Indonesia menuju negara tetangga.

Situasi cuaca juga ikut berperan. Di Malaysia, Departemen Lingkungan menyebut kombinasi fenomena El Niño dan Monsun Barat Daya menyebabkan curah hujan di sejumlah wilayah berada di bawah normal. Kondisi panas dan kering tersebut meningkatkan risiko kebakaran hutan, lahan gambut, serta kabut asap.

Di sisi lain, Kementerian Kehutanan Indonesia juga menyebut musim kemarau dan ancaman El Niño sebagai faktor yang meningkatkan risiko karhutla di Kalimantan. Karena itu, pemantauan titik panas dan respons cepat menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. 

Dengan kata lain, cuaca memang bukan satu-satunya penyebab kebakaran. Tetapi kondisi panas dan kering membuat api jauh lebih mudah berkembang ketika kebakaran terjadi.

Indonesia Harus Bergerak Sebelum Asap Jadi Diplomasi

Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup dilakukan setelah api membesar.

Deteksi titik panas, patroli, kesiapan pemadam, pengawasan kawasan hutan dan konsesi, serta penindakan terhadap pembakaran ilegal harus berjalan sejak awal.

Kementerian Kehutanan saat ini memang memperkuat deteksi dini berbasis hotspot dan meminta pemegang PBPH melakukan verifikasi lapangan ketika titik panas teridentifikasi. Di Kalimantan Selatan saja, pemantauan menggunakan satelit NASA-NOAA20 pada 12 Agustus menemukan 73 hotspot dengan tingkat kepercayaan kategori medium. 

Langkah seperti ini penting. Sebab dalam urusan karhutla, menunggu api menjadi besar baru kemudian bertindak jelas bukan strategi yang ideal.

Apalagi kalau ujung-ujungnya asap sudah sampai negara tetangga.

Opini IDGV

Karhutla bukan fenomena baru di Indonesia. Yang membuat persoalan ini terasa semakin serius adalah ketika dampaknya mulai merembet ke kehidupan masyarakat dalam skala yang lebih luas, bahkan sampai ke negara tetangga.

Menutup ratusan sekolah tentu bisa menjadi langkah perlindungan yang masuk akal ketika kualitas udara memburuk. Namun dalam jangka panjang, solusi tidak boleh berhenti pada memindahkan aktivitas masyarakat ke dalam rumah.

Api harus dicegah sebelum membesar.

Karena kalau setiap musim kemarau kita kembali sibuk menghitung titik panas, sekolah yang ditutup, penerbangan yang terganggu, dan negara tetangga yang terkena asap, pertanyaannya bukan lagi apakah karhutla bisa dicegah.

Pertanyaannya adalah: kenapa kita masih terus berada di siklus yang sama?

Sumber dan Verifikasi

  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 14–15 Agustus 2026: mencatat kejadian karhutla di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Paser, Kalimantan Timur, dan Bulungan, Kalimantan Utara. 

  • Kementerian Kehutanan, 16 Agustus 2026: melaporkan pemeriksaan kesiapan empat perusahaan kehutanan di Kalimantan Barat untuk menghadapi peningkatan risiko karhutla. 

  • Kementerian Kehutanan, 14 Agustus 2026: melaporkan sistem deteksi dini hotspot dan menemukan 73 hotspot kategori medium di Kalimantan Selatan berdasarkan pemantauan 12 Agustus. 

  • Bernama, 20 Agustus 2026: melaporkan 591 sekolah di Sarawak ditutup sementara akibat kondisi panas dan kering serta kabut asap. 

  • Bernama/Departemen Lingkungan Malaysia, 20 Agustus 2026: melaporkan enam wilayah Sarawak mencatat API tidak sehat, dengan Serian mencapai 193. 

  • Thumbnail created by AI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]